
Weekly Tabloids – Kualitas sperma bisa menurun diam-diam hanya karena kebiasaan sederhana yang sering pria lakukan setiap hari. Banyak calon ayah justru mengabaikan kebiasaan kecil ketika mempersiapkan kehamilan bersama pasangan. Padahal, kesehatan reproduksi pria ikut menentukan peluang pasangan memperoleh kehamilan. Prof. Dr. dr. Budi Wiweko dari RS Pondok Indah IVF Centre menjelaskan hal tersebut. Menurutnya, sejumlah kebiasaan harian dapat mengganggu kesehatan dan materi genetik sperma. Pria juga membutuhkan persiapan gaya hidup yang konsisten sebelum menjalani program kehamilan. Perubahan tersebut tidak memberikan hasil dalam waktu singkat. Tubuh membutuhkan waktu untuk membentuk sperma baru dengan kondisi yang lebih baik. Karena itu, calon ayah perlu memperhatikan kebiasaan sehari-hari sejak jauh sebelum pembuahan. Beberapa kebiasaan bahkan terlihat sepele karena sudah menjadi bagian dari rutinitas. Padahal, panas berlebih, rokok, posisi laptop, hingga pola makan dapat membawa masalah tersendiri.
Panas Berlebih Bisa Mengganggu Kualitas Sperma

Sperma memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan suhu pada area reproduksi pria. Suhu yang terlalu tinggi dapat menghambat proses pembentukan sperma dengan kualitas baik. Karena itu, pria perlu membatasi kebiasaan yang meningkatkan suhu pada area intim. Sauna menjadi salah satu aktivitas yang perlu pria perhatikan ketika merencanakan kehamilan. Berendam dalam air panas juga dapat meningkatkan suhu sekitar testis dalam waktu tertentu. Kebiasaan memakai pakaian dalam terlalu ketat turut meningkatkan kondisi panas pada area tersebut. Menurut Prof. Budi Wiweko, panas dapat mengganggu DNA yang membawa materi genetik sperma. Materi genetik tersebut memegang peran penting ketika sperma bertemu dengan sel telur. Pria juga perlu memberi perhatian pada kenyamanan pakaian sehari-hari. Pakaian yang terlalu ketat dapat membuat area reproduksi terasa lebih panas. Kebiasaan sederhana seperti memilih pakaian lebih longgar dapat membantu menjaga kondisi area intim. Pria tidak harus menghindari aktivitas relaksasi selamanya. Namun, calon ayah perlu mengatur frekuensi dan durasi aktivitas bersuhu tinggi.
Memangku Laptop dan Menonton TV Bisa Mengancam Kualitas Sperma

Kebiasaan bekerja sambil memangku laptop sering muncul dalam rutinitas pria modern. Posisi tersebut dapat meningkatkan panas pada area sekitar organ reproduksi. Pria juga sering menyimpan ponsel dalam saku celana yang berdekatan dengan area intim. Menurut Prof. Budi, kebiasaan tersebut perlu mendapat perhatian ketika pria mempersiapkan kehamilan. Selain perangkat elektronik, aktivitas duduk terlalu lama juga dapat memperburuk gaya hidup. Menonton televisi selama berjam-jam membuat tubuh kurang bergerak dalam waktu panjang.
Prof. Budi menyebut kebiasaan menonton televisi selama 40 jam dalam satu minggu dapat mengganggu DNA sperma. Kerusakan DNA dapat menurunkan kemampuan sperma dalam membuahi sel telur. Kondisi tersebut juga dapat mengganggu perkembangan embrio setelah pembuahan. Karena itu, pria perlu mengatur waktu bekerja, menonton televisi, dan menggunakan perangkat digital. Pria dapat menempatkan laptop pada meja agar panas tidak langsung mengenai area reproduksi. Pria juga dapat menyimpan ponsel pada tempat yang tidak berdekatan dengan area intim. Aktivitas fisik rutin turut membantu pria menjaga pola hidup yang lebih sehat.
Merokok Dapat Mengganggu Kesuburan Pria
Rokok menjadi salah satu kebiasaan yang perlu pria tinggalkan ketika merencanakan kehamilan. Nikotin dan berbagai zat dalam rokok dapat mengganggu kesehatan sistem reproduksi. Prof. Budi menekankan pentingnya memperbaiki gaya hidup sekitar dua bulan sebelum pembuahan. Menurutnya, calon ayah perlu memberikan waktu bagi tubuh untuk menjalani perubahan tersebut. Pria tidak sebaiknya menunggu pasangan menjalani program hamil untuk mulai berhenti merokok. Kebiasaan merokok juga dapat mengurangi upaya pria menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Karena itu, calon ayah perlu memasukkan berhenti merokok dalam persiapan kehamilan. Langkah tersebut juga dapat membantu pria membangun pola hidup yang lebih sehat. Selain rokok, pria perlu memperhatikan pola tidur, aktivitas fisik, dan pilihan makanan. Ketiga aspek tersebut dapat mendukung kebiasaan hidup yang lebih baik. Pria juga perlu menghindari anggapan bahwa satu makanan mampu langsung meningkatkan kesuburan. Kesehatan reproduksi membutuhkan pola hidup yang konsisten, bukan satu kebiasaan sesaat. Persiapan sekitar 60 hari memberikan kesempatan bagi pria untuk memperbaiki berbagai kebiasaan.
Jangan Hanya Mengandalkan Tauge untuk Meningkatkan Kesuburan
Tauge sering muncul dalam pembicaraan mengenai makanan yang dapat meningkatkan kesuburan pria. Namun, Prof. Budi menyebut anggapan tersebut sebagai mitos. Menurutnya, pria membutuhkan pola makan dengan kandungan protein dan vitamin yang cukup. Tubuh tidak hanya membutuhkan satu jenis sayuran untuk mendukung kesehatan reproduksi. Pria perlu mengonsumsi makanan beragam agar tubuh memperoleh berbagai zat gizi. Sumber protein dapat berasal dari ikan, telur, daging, maupun pilihan makanan bergizi lainnya. Pria juga perlu mengonsumsi sayuran dan buah dalam pola makan sehari-hari. Kebiasaan makan secara seimbang dapat mendukung kondisi tubuh sebelum pasangan menjalani program kehamilan. Mengonsumsi tauge tetap boleh selama pria memasukkannya dalam pola makan yang beragam. Masalah muncul ketika pria mengandalkan tauge sambil mengabaikan kualitas makanan lainnya. Pola makan yang berantakan tidak akan berubah hanya karena seseorang menambah satu jenis sayuran. Karena itu, calon ayah perlu melihat kesehatan reproduksi melalui kebiasaan secara menyeluruh. Pria juga perlu membatasi kebiasaan yang dapat mengganggu kesehatan tubuh.
Persiapan Dua Bulan Membantu Menjaga Kualitas Sperma
Pria perlu memulai perubahan gaya hidup sebelum pasangan menjalani proses pembuahan. Prof. Budi menyarankan persiapan sekitar 60 hari atau dua bulan. Periode tersebut memberi kesempatan bagi pria untuk memperbaiki berbagai kebiasaan sehari-hari. Calon ayah dapat memulai langkah tersebut dengan berhenti merokok. Pria juga dapat mengurangi aktivitas yang meningkatkan suhu pada area reproduksi. Mereka dapat menghindari sauna, berendam air panas, dan penggunaan pakaian dalam terlalu ketat. Kebiasaan memangku laptop juga perlu pria tinggalkan ketika bekerja. Pria sebaiknya menempatkan perangkat tersebut pada meja agar tubuh tidak menerima panas langsung. Penggunaan ponsel juga membutuhkan kebiasaan yang lebih bijak. Pria dapat menghindari penyimpanan ponsel dalam saku yang dekat dengan area intim. Selain itu, pria perlu mengurangi kebiasaan duduk dan menonton televisi dalam waktu sangat lama. Pola makan bergizi seimbang juga perlu masuk dalam rutinitas harian. Berbagai perubahan tersebut membutuhkan konsistensi agar pria dapat menjalani persiapan dengan lebih baik.



